Putri Mahkota Swedia ke Lombok, NTB Bawa Cerita Lokal ke Percakapan Global -->
Cari Berita

Iklan 970x90px

Putri Mahkota Swedia ke Lombok, NTB Bawa Cerita Lokal ke Percakapan Global

Thursday, August 27, 2026

Pada 5–6 September 2026, Putri Mahkota Swedia, Victoria, dijadwalkan berkunjung ke Lombok. 


MATARAM, BIMA TODAY. --- Sebelum memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menghabiskan perjalanan panjangnya di dunia diplomasi. Kini, sebagai Gubernur NTB, ia berada pada sisi yang berbeda 'dunia datang ke Lombok'.


Pada 5–6 September 2026, Putri Mahkota Swedia, Victoria, dijadwalkan berkunjung ke Lombok. Yang lebih penting adalah, pengalaman apa yang dibawa pulang dan hubungan apa yang dapat tumbuh setelah pertemuan berakhir. Karena itu, Putri Mahkota Victoria tidak hanya akan diperkenalkan kepada keindahan Lombok.


Tentunya, bagi Pemerintah Provinsi NTB, untuk menyiapkan sejumlah agenda yang membawa Victoria bertemu langsung dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari perempuan yang menggerakkan komunitas, kader Posyandu, masyarakat adat yang menjaga lingkungan, hingga pelaku UMKM dan komunitas pesisir.


“Kita ingin Princess melihat langsung kondisi dan kehidupan masyarakat di lapangan,” kata Iqbal dalam persiapan kunjungan bersama Kementerian Luar Negeri, Kementerian PPN/Bappenas dan United Nations Development Programme (UNDP).


Dijelaskannya, penekanan itu sekaligus menjelaskan arah kunjungan. Lombok tidak ingin sekadar menjadi latar sebuah agenda internasional. NTB ingin menghadirkan pengalaman. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Posyandu. 


Karena di balik pelayanan kesehatan ibu dan anak, terdapat ribuan kader yang sebagian besar merupakan perempuan dan bekerja langsung di tengah keluarga serta komunitas. "Kerja-kerja seperti inilah yang penting diperlihatkan kepada dunia. Karena pembangunan yang hidup dalam keseharian masyarakat,"terangnya.


Lanjut Miq Iqbal, agenda kunjungan juga akan membawa Putri Mahkota Victoria melihat hubungan masyarakat dengan lingkungan. Melalui komunitas dan kawasan berbasis budaya serta alam, NTB ingin memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Tetapi tumbuh dari pengetahuan lokal dan cara masyarakat menjaga ruang hidupnya.


Menurutnya, Victoria sendiri datang ke Indonesia tidak hanya sebagai Putri Mahkota Swedia, tetapi juga dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador UNDP. Titik temu itulah yang membuat kunjungan ke Lombok memiliki makna lebih terang terkait dengan isu tentang perempuan, kesehatan masyarakat, pemberdayaan komunitas dan lingkungan yang akan diperlihatkan NTB merupakan bagian dari percakapan global tentang pembangunan berkelanjutan. "Di sinilah hubungan Swedia dan Lombok menemukan konteks barunya,"terangnya.


Dikatakan Miq Iqbal, mungkin tidak ada jejak panjang hubungan sejarah antara kerajaan Swedia dan kerajaan-kerajaan di Lombok. Namun perjumpaan dua wilayah yang berjauhan secara geografis itu justru dapat dimulai dari persoalan masa depan yang sama. "Swedia datang melalui Putri Mahkotanya. Lombok menyambutnya dengan cerita masyarakatnya,"jelasnya.


Bagi Miq Iqbal, pengalaman diplomasi mengajarkan bahwa hubungan sering kali tumbuh dari perjumpaan yang berkesan. Ia berharap, agenda kunjungan tidak terlalu padat dan memberikan ruang bagi Putri Mahkota Victoria untuk merasakan Lombok secara langsung. Victoria kembali ke Swedia, yang tersisa bukan hanya dokumentasi kegiatan dan daftar agenda resmi. "Ada perjumpaan dan ada cerita tentang Lombok yang dibawa pulang,"ujarnya.


 Sebagai diplomat, Lalu Muhamad Iqbal membawa Indonesia ke ruang-ruang internasional. Kini, sebagai Gubernur NTB, ia memiliki ruang berbeda untuk melakukan hal yang sama: membawa cerita tentang masyarakat NTB kepada dunia. Kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria menjadi salah satu perjumpaan penting dalam perjalanan itu.


"Dunia datang ke Lombok. Dan NTB bersiap memastikan. Dunia tidak hanya melihat keindahannya tetapi juga membawa pulang cerita tentang masyarakat yang hidup di dalamnya,"tandasnya. (BT01/KominfotikNTB)